Halaman

Kamis, 30 April 2020

Satu Rasa yang Sama - Menebar Kebaikan

SATU RASA YANG SAMA

27 Februari 2020, dimana saya memulai perjalanan yang luar biasa menuju MIS Al Khairat yang berada di Dusun Bololaringi, Desa Bonto Katute, Kec. Sinjai Borong, Kab. Sinjai. Tempat yang benar – benar terpencil. Berkat komunitas Koin Untuk Negeri saya mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan yang ekstrim ini.

Pagi itu pertama kali kulihat raut wajah mereka, adik – adik MIS Al Khairat. Simpul senyuman dan gelak tawa ceria merupakan kesan pertama yang saya temui dari diri mereka. Seperti hal magis, hanya dengan melihat mereka saja saya menjadi lebih berenergi dan bersemangat, rasa kantuk seketika hilang. Tak dipungkiri lagi terkadang mereka menunjukkan ekspresi menggemaskan terhadap kehadiran kami selaku relawan yang jelas – jelas orang baru. Ya, terkadang mereka memalingkan wajah sambil sesekali matanya muncul mengintip dari bilik kelas atau menghiraukan sapaan kami namun akhirnya justru merajuk meminta kami untuk tinggal lebih lama.

Kondisi geografis lingkungan sekolah mereka cukup menantang, berada di daerah pegunungan dengan akses jalan yang masih dalam tahap awal pembangunan. Jalanannya yang terjal dan berkelok – kelok diiringi tebing di satu sisi dan jurang di sisi lainnya. Ketika musim hujan, jalanan menjadi berlumpur, banyak genangan di sana sini dan sangat licin saat dilalui. Hampir semua dari mereka berangkat dan pulang sekolah dengan jalan kaki. Ada yang rumahnya dekat, ada pula yang harus berjalan selama 30 menit untuk mencapai sekolah.

MIS Al Khairat

Bayangan saya akan sekolah ideal nampaknya tak berlaku di sekolah ini. Hati siapa yang tak iba saat mata menatap ke seluruh kondisi sekolah. Sebagian dinding jebol, meja yang rusak dan berumur, ruangan kelasnya yang berdebu, kayu – kayunya yang mulai keropos dan sepertinya tidak layak untuk dipakai sebagai tempat belajar dan mengajar.

Pagi hingga sore, kami mendidik dan melakukan kegiatan yang membuat adik – adik bahagia. Kebetulan, saya mendapatkan amanah untuk mengajar di kelas inspirasi. Kami memberikan materi mengenai profesi dan cita – cita. Pengenalan profesi sangat penting bagi adik – adik. Semakin banyak mengenal aneka profesi, mereka akan semakin memiliki banyak gambaran tentang mau jadi apa di masa depan. Saya mencoba menjadi role model saat menjelaskan tentang profesi. Saya mempraktikkan profesi guru saat mengajar, dokter saat mengobati orang yang sakit, polisi saat sedang mengatur lalu lintas, dan banyak lagi.


Sesekali kami bermain drama dengan tema profesi. Tak di sangka ternyata adik – adik sangat aktif dan tertawa lepas karena cerita dramanya yang lucu. Setelah drama selesai, saya bertanya kepada mereka tentang profesi apa saja yang ada di drama tadi. Sesuai dengan ekspektasi, mereka semua menjawab dengan benar.

Ada sesi dimana adik – adik wajib menulis cita – citanya pada karton yang menyerupai bintang. Nantinya bintang tersebut akan ditempel pada pohon impian yang dipasang di dinding kelas. Saya melihat, cita – cita mereka tidak jauh berbeda dengan anak – anak kota. Menjadi dokter, TNI, polisi, guru dan lain – lain. Lantas kami kobarkan semangat mereka, “Dik, kesuksesan adalah milik semua anak bangsa. Bukan hanya milik mereka yang bergelimang harta. Kalian berhak meraih cita – cita. Kelak kalau kalian sukses, ingat bantu untuk kemajuan desa.”

Satu pesan yang pernah kusampaikan untuk adik – adikku, “Bagaimanapun kondisinya sekarang, adik – adik punya banyak kesempatan dan jalan untuk menggapai impian. Jangan lupa sholat dan berdoa karena Allah pasti akan mengabulkannya. Yang kalian lakukan haruslah berguna bagi diri sendiri dan orang lain.”

Terima kasih sudah mengajari kami untuk lebih bersyukur, tulus dan lebih ikhlas dalam menebar kebaikan. Karena harapan, keceriaan, semangat untuk menggapai mimpi tidak dapat dibeli, melainkan ditularkan satu sama lain untuk maju dan berkembang bersama.

Dari seribu langkah bersama, saya menemukan satu rasa yang sama, peduli. Seperti kata Najwa Shihab, 
“Yang harus dibabat adalah egoisme dan kebencian, yang mesti dirajut ialah solidaritas dan kepedulian.”
Kepada seluruh relawan, semoga kita tetap istiqomah di jalan perjuangan, tetap bisa berjuang untuk pendidikan yang lebih baik. Bersama komunitas KUN ataupun tidak semoga kita tetap memiliki semangat kebaikan berbagi. Percayalah, ketika kita meringankan beban orang lain, maka Allah akan ringankan beban kita. Terima kasih telah menyadarkan saya bahwasanya perjuangan yang penuh kebahagiaan adalah menjadi relawan. Bahagia yang di dapatkan dengan sederhana tetapi bermakna di hati.



Kepada komunitas Koin Untuk Negeri,
terima kasih telah memberi saya kesempatan untuk melihat kemerdekaan Indonesia dengan lebih dekat. Saya bersyukur bisa mengenal kalian.

Ohiya, ada satu hal lagi yang bisa kita lakukan untuk membantu memajukan pendidikan di Indonesia. Apa itu? Ya, dengan ‘zakat’. Mari ikut menebar kebaikan dengan zakat! 

Melalui zakat, banyak sektor yang bisa diberdayakan salah satunya adalah pendidikan. Masa depan anak bangsa ditentukan dari kualitas generasi muda saat ini. Dompet Dhuafa hadir sebagai lembaga zakat yang memberikan biaya pendidikan gratis serta beasiswa kepada siswa tidak mampu namun berprestasi. Siswa berprestasi hadir dari guru dan sekolah yang berkualitas.

Siapa yang mau melihat negaranya sendiri maju? Maka dari itu, tidak ada lagi alasan malas mengeluarkan zakat. Mari bersama membangun bangsa melalui zakat.

#Zakat #KebaikanBerbagi #MenebarKebaikan #LombaBlogMenebarKebaikan

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”







Tidak ada komentar:

Posting Komentar