Kamis, 23 April 2020

Penaklukkan Konstantinopel 29 Mei 1453 - Bangkitnya Bangsa Turki (Bagian 5)

Penaklukkan Konstantinopel 29 Mei 1453

Bangkitnya Bangsa Turki (Bagian 5)


Berdasarkan peta di atas, zaman dahulu Allah memisahkan daerah utara dan selatan dengan deretan gunung - gunung. Mengapa utara dan selatan dibatasi dengan gunung? Karena di utara ada sesuatu yang berbahaya.

Menurut dalil Israiliyat (berita dari al kitab yang kemudian diceritakan ulang oleh bani Israil, status berita ini disikapi pertengahan) ketika kapal Nabi Nuh as mendarat setelah banjir besar, beliau memiliki 3 anak yang selamat, yaitu Sem, Ham, dan Yafeth.

Sem menurunkan ras Semith yang mendiami wilayah pertengahan dunia. Mencakup Timur Tengah (Syam,Arab,Persia) dan Barat dunia. Keturunan Sam adalah para Nabi dan Rasul seperti Nabi Ibrahim, Daud, Isa dan juga Nabi Muhammad SAW. Umumnya ras semith memiliki kulit yang putih.

Ham menurunkan ras Hamith yang mendiami wilayah sebelah selatan (Afrika). Keturunan Ham adalah para abdi raja. Namun satu keturunan Ham yaitu Kush didoakan oleh Nabi Nuh as sebagai raja. Umumnya ras Hamith memiliki kulit gelap dan hitam.

Yafeth sendiri diberikan wilayah sebelah utara (China, Rusia, Mongoloid) dan Timur dunia. Keturunan Yafeth adalah para raja - raja terdahulu. Dari silsilah ini lahirlah ras Yafetik yang memiliki kulit merah dan coklat.

Kenapa kemudian Allah membatasi wilayah selatan dan utara dengan deretan gunung? supaya orang - orang utara tidak menyerang ke selatan. Ras Yafetik ini menjelma menjadi bangsa yang kuat, gemar berperang dan mempunyai naluri penaklukkan yang kuat. Orang - orang utara ini tinggal di atas gunung, mereka dikatakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits :

"Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian memerangi satu kaum yang sendal - sendal mereka terbuat dari bulu, dan kalian memerangi bangsa Turk yang bermata sipit, wajahnya merah, hidungnya pesek, wajah - wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit." (HR. Bukhari)

Siapa saja keturunan Yafetik? bangsa China menyebut mereka bangsa Xiongnu, Yunani mengenalnya sebagai bangsa Sos, sedang bangsa Barat menyebutnya sebagai bangsa Simmeria/Schytian. Orang Kristen menyebut raja Yafetik sebagai Gog dan Magog, dan Muslim mengenal mereka sebagai Ya'juj dan Ma'juj. Selain itu, Viking dan Atiladahan juga termasuk keturunan Yafetik.


Allah memperingatkan bahwa Ya'juj dan Ma'juj akan menghancurkan dunia untuk kedua kalinya dan akan muncul dari tempat yang tinggi menjelang menjelang akhir zaman nanti. Rasul SAW menjelaskan Ya'juj dan Ma'juj akan menguasai dunia dan menimbulkan kehancuran yang besar pada bumi. 

Dalam QS. Al Kahfi, diceritakan bahwa Dzulqarnain diminta oleh suatu kaum untuk menutupi celah yang kemudian bisa menjadi tempat menyerangnya Ya'juj dan Ma'juj. Dzulqarnain menghalau Ya'juj dan Ma'juj ke utara dan mengurungnya dengan tembok. Firman Allah SWT menyatakan, tembok besi berlapis tembaga yang takkan hancur sampai akhir zaman ketika mereka kembali. Namun, ketika Dzulqarnain menghalau Ya'juj dan Ma'juj, tertinggallah satu bagian dari mereka. Merekalah bangsa Turki dan Mongol. 


Turki berasal dari kata Taroka - Turika (meninggalkan - ditinggalkan), akhirnya itulah mereka diberi nama bani Turki (orang - orang yang tertinggal).
Rasul SAW pun bersabda, "Biarkanlah bangsa Turk selama mereka membiarkan kalian."
(HR. Abu Daud).  

Rasulullah melarang peperangan terlebih dahulu dengan mereka karena menyadari potensi kekuatan bangsa Turki. Rasulullah SAW memprediksi bahwa sepertiga Turki akan memerangi Muslim, sepertiga yang lain tetap pada agama nenek moyang mereka, dan sepertiga menjadi bagian Muslim. Inilah Turki yang kita kenal sekarang. 

Orang - orang turki (bani oghuz) berasal dari daerah sebelah timur yang sekarang kita kenal dengan nama Xianjiang. Dari Xianjiang kemudian bani oghuz bermigrasi ke arah barat melalui dataran tinggi Siberia ke laut Arab, dan sebagian lagi ke wilayah Rusia. 

Hubungan bangsa Turki dengan dunia Islam terjadi pada tahun 22 H, mereka lebih awal bersentuhan dengan Khulafaurrasyidin. Bangsa Turki memeluk agama Islam dan mereka bergabung dengan barisan mujahidin untuk menyebarkan Islam.

Pada perkembangan selanjutnya, Saljuq bin Duqaq (yang dikenal sebagai seorang pemimpin konfederasi suku - suku Turki yang mengabdi kepada salah seorang Khan di Turkistan)  mempersatukan suku Saljuk. Saljuk bin Duqaq bersama seluruh anggota sukunya pindah dari dataran tinggi Kirghiz (Kazakhstan) ke Jand di provinsi Bukhara, dan mereka mendiami wilayah tersebut atas izin penguasa Dinasti Samaniyah. Disanalah Saljuk menyatakan masuk Islam sekitar tahun 956, kemudian melancarkan serangan - serangan kepada bangsa Turki yang kafir.

Ketika Dinasti Gaznawiyah (367 H/977 M-583 H/1187) mengalahkan Dinasti Samaniyah, Saljuk membebaskan dan memerdekakan diri dan mantap menguasai wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Dinasti Samaniyah. Berdirinya Dinasti Saljuk merupakan pertanda munculnya kekuasaan bangsa Turki di Timur Tengah.

Dalam perkembangan selanjutnya, Dinasti Saljuk di bawah kepemimpinan Thugril Beq berhasil mengalahkan Dinasti Gaznawiyah dan menguasai wilayah - wilayah yang sebelumnya di bawah kekuasaan Dinasti Gaznawiyah. Thugril Beq menduduki jabatan sultan dan secara resmi mendapat pengakuan dari Khalifah Muktashim (Khilafah Abbasiyah di Baghdad). Mukhtashim kemudian merekrut mereka menjadi tentara - tentara yang sangat terlatih dan memberikan mereka wilayah  di perbatasan Abbasiyah. 

Walaupun bani Saljuk lebih kuat daripada orang - orang Abbasiyah, tapi mereka tidak pernah mau melakukan kudeta. Mereka tetap setia dengan khilafah Abbasiyah. Saking banyaknya orang - orang Turki yang direkrut oleh Khalifah Mukhtasim, orang - orang Arab sampai berkata, "Ini adalah kekhilafaan Arab atau kekhilafaan Turki?."

Begitulah Allah mempergilir kekuasaan, bani Turki yang awalnya budak berubah menjadi penguasa - penguasa militer tinggi. Atas perintah Khalifah,  panglima - panglima Turki Saljuk diminta pergi ke ujung barat, perbatasan dengan Byzantium, menjaga Khilafah dari ancaman. Bani Saljuk menjadi penguasa tanah perbatasan, dengan sumpah setia pada Khilafah Abbasiyah mereka membangun kekuasaan di perbatasan. 

Sepeninggal Sultan Thugril Beq, beliau mengangkat keponakannya Alp Arslan menjadi Sultan Saljuk. Pada tahun kedua pemerintahannya, Alp Arslan menduduki sebuah provinsi di Byzantium. Segera setelah itu, ia terlibat dalam pertarungan melawan Byzantium yang menjadi musuh abadinya dalam pertempuran Manzikert. Pertempuran Manzikert antara kekaisaran Byzantium yang dipimpin Kaisar Romanos IV Diogens versus pasukan Saljuk yang dipimpin oleh Alp Arslan terjadi pada tanggal 26 Agustus 1071.

Kaisar Romanos IV mengumpulkan 200.000 pasukan sedangkan Alp Arslan hanya mengumpulkan 20.000 pasukan. Alp Arslan yang hanya menginginkan damai dan setengah hati berperang lalu berkonsultasi dengan ulama. Ulamanya menasehati kepada Alp Arslan, "Berperanglah dengan menggunakan pakaian kain kafan, lalu kamu khutbahlah di depan pasukan mu." Maka Alp Arslan menggunakan kain kafan, pakaiannya semua berwarna putih lalu berkhutbah di hadapan pasukannya.

"Wahai pasukanku, sekarang saya sudah menggunakan kain kafan. Siapa yang mau ikut bersamaku, saya tidak bisa menjanjikanmu apa - apa selain jika kamu mati, kamu akan mati dalam keadaan syahid. Jika kamu mati, kamu akan mati sebagai mujahid. Tidak ada yang kita cari selain itu!". Pasukan Alp Arslan kemudian berkobar semangat berjihadnya.

Dalam pertempuran ini, Imperium Byzantium dapat dikalahkan oleh tentara Saljuk, dan Kaisar Romanos IV ditangkap. Ketika ditawan, Alp Arslan bertanya kepadanya, "Jika kita bertukar tempat. Kira - kira akan kamu apakan saya?" Romanus menjawab, "Saya akan membunuh dan hinakan kamu. Mungkin saya akan seret mayatmu dengan kuda saya.", Alp Arslan mengatakan, "Saya bisa lakukan itu tapi saya akan melakukan sesuatu yang lebih menghinakan dirimu." Alp Arslan mengirimkan pasukannya untuk mengawal Kaisar Romanus IV ini untuk dibebaskan dan dikawal balik ke Konstantinopel dengan bendera "Laa Ilaha Illallah". Sungguh malang nasibnya Romanus, matanya dibutakan oleh rakyatnya sendiri dan dimasukkan ke dalam penjara sampai mati membusuk disana.

Kemenangan Bani Saljuk Atas Imperium Byzantium

Pertempuran Manzikert mempunyai arti penting dan strategis bagi kehancuran Byzantium, dan membuka jalan bagi orang - orang Turki ke Anatolia. Dalam kurun waktu sepuluh tahun sesudah pertempuran tersebut, Saljuk Turki merebut kota Nicaea yang berada di tepi selat Bosphorus, di seberang Konstantinopel, ibukota Imperium Byzantium (Romawi Timur).

Bani Saljuk terkenal dengan Sultan Alp Arslan dan Bani Ayyub terkenal dengan Shalahuddin Al Ayyubi yang merupakan keturunan Yafetik. Keturunan Yafeth yang akhirnya memperkuat Islam. Dengan naluri perang lahiriahnya, Shalahuddin kembali menguasai Al Quds dan Alp Arslan menguasai Asia kecil (Anatolia).

Sungguh panglima - panglima Islam keturunan Turki membela Islam dengan jiwa mereka, menjadikan jihad sebagai prestasi tertinggi. Mereka hidup di atas kuda dan bertamasya dengan jihad, bercanda di bawah bayang - bayang pedang mereka. Dan dengan bangga Muslim Turki menggelari diri mereka sebagai Ghazi (orang yang berperang). Ghazi, ksatria iman begitu mereka menggelari yang paling kuat dan paling berani diantara mereka. Dan salah satu dari keturunan mereka benar - benar akan menjadi pemimpin terbaik sebagaimana bisyarah Rasulullah SAW.

Bersambung...


REFERENSI : 
Siauw, Felix Y. 2013. Muhammad Al Fatih 1453. Jakarta Barat: Al Fatih Press
Ismail, Faisal. 2017. Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Klasik. Yogyakarta: IRCiSoD



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Sebuah Peradaban Hancur?

Umat Islam pernah memiliki peradaban yang luar biasa selama berabad-abad. Bahkan   peradaban itu tidak bisa disamai oleh bangsa lain. Namun,...