Halaman

Kamis, 26 Maret 2020

Penaklukkan Konstantinopel 29 Mei 1453 - Surat Kepada Kaisar (Bagian 2)

Penaklukkan Konstantinopel 29 Mei 1453

Surat Kepada Kaisar (Bagian 2)

     Teman - teman sekalian, kalau kita memahami dunia di zaman dahulu. Benar - benar dunia di zaman dahulu berbeda dengan dunia sekarang. Orang - orang mungkin mengenal peradaban yang paling unggul sekarang adalah Inggris, Amerika, Jerman, ataupun Prancis. Tapi zaman dahulu belum ada yang namanya Inggris, Prancis, Jerman terlebih lagi Amerika. Kalau kita membahas dunia pada zaman Rasulullah SAW maka sesederhana kita bisa membagi dunia itu cuma ada timur dan barat. Barat berarti Romawi dan timur adalah Persia. Romawi dan Persia senantiasa berperang satu sama lain karena memperebutkan wilayah kekuasaan dan secara politis mereka memperebutkan siapa yang dikatakan sebagai penguasa dunia.

     Sebelum turunnya QS. Ar - Rum, bangsa Romawi dikenal sebagai bangsa yang selalu kalah dalam peperangan melawan Persia. Bertahun - tahun lamanya kekalahan harus diterima Romawi yang wilayah kekuasaannya meliputi Konstantinopel, Syam, Mesir dan Afrika. Pertarungan antara dua kekuatan adidaya Romawi dengan Persia menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat Arab khususnya setelah Nabi Muhammad SAW diutus menjadi Nabi terakhir. Pertarungan antara dua negara adidaya ini menjadi ajang olok - olok antara Quraisy dengan kaum muslimin. Masyarakat jahiliyah Arab senang dengan kekalahan Romawi sebab Romawi adalah bangsa yang memiliki kitab suci seperti halnya kaum muslimin.

الم (1) غُلِبَتِ الرُّومُ (2) فِي أَدْنَى الأرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (3) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الأمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5) وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (6) يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (7)

Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. {QS : Ar Rum (1-7)]

     Maka setelah turunnya QS. Ar Rum yang menjelaskan kemenangan bangsa Romawi, kaum muslimin amat percaya diri mengatakan kepada masyarakat quraisy bahwa Romawi akan menjumpai kemenangannya. 

    Abu Bakar Ash Shiddiq berkata "Romawi pasti menang!" lalu di balas oleh Ubay bin Khalaf "Tidak benar." Abu Bakar kemudian membalas "Demi Allah, kamu lebih tidak benar lagi". Akhirnya Ubay bin Khalaf menantang Abu Bakar untuk taruhan (saat itu taruhannya 10 ekor unta). Maka Abu Bakar menerima tantangan itu dan berkata "3 tahun kedepan kita akan lihat Romawi akan menang." Begitu Abu Bakar datang kepada Rasulullah SAW kemudian menyampaikan kisah tentang Ubay bin Khalaf dan taruhannya. Rasulullah SAW mengatakan bahwa "فِي بِضْعِ سِنِينَ". Maksud perkataan Rasulullah SAW ini adalah 3 sampai 9 tahun. Jadi kalimat Bid'i dalam bahasa Arab adalah 3 sampai 9, maka dari itu kemenangan Romawi atas Persia adalah 3 sampai 9 tahun kedepan. Maka Rasulullah SAW meminta kepada Abu Bakar untuk mengubah perjanjiannya kepada Ubay. (perlu diketahui bahwa peristiwa ini terjadi sebelum turun larangan berjudi).
Abu Bakar kembali ke Ubay bin Khalaf untuk meminta diulangi akadnya. Ubay mengejek dengan mengatakan "Apakah kamu menyesal dengan pertaruhan ini?", di jawab oleh Abu Bakar "Tidak! saya akan menaikkan taruhannya menjadi 100 ekor unta tetapi beri saya waktu sampai 9 tahun". 

     Ternyata betul, Orang - orang Romawi kalah total melawan Persia. Tapi setelah beberapa lama yaitu 7 tahun menjelang (629 M) pasukan Romawi menang. Ini membuktikan bahwa ayat selalu tepat. Bahkan ketika semua orang mengatakan tidak mungkin, jika ayat mengatakan IYA maka jawabannya pasti IYA. 
Apa yang membuat Abu Bakar berani bertaruh? padahal bertaruh bukan merupakan karakter dan kebiasaan beliau. Maka sebenarnya Abu Bakar hanya ingin menyampaikan bahwa kitab suci pasti selalu benar. 
Begitu Abu Bakar menang, beliau meminta tebusan 100 ekor unta lalu dibawanya ke Rasulullah SAW. Rasulullah mengatakan "Sedekahkan semuanya". 

    Kebenaran mukjizat Al Qur'an dalam QS Ar Rum terbukti di tahun 6 H/629 M. Ada seorang pahlawan yang muncul ditengah orang - orang Romawi. Dia seorang Kaisar yang memimpin pasukannya lalu kemudian dengan gagah berani memukul mundur pasukan Persia satu persatu dan kembali merebut wilayah - wilayah yang dikuasai Persia. Ia bernama Heraklius. Kemenangan Heraklius bertepatan dengan tahun terjadinya perjanjian Hudaibiyah di Makkah. Sebuah perjanjian damai yang mengisyaratkan kemenangan awal muslimin atas kaum quraisy.

     Setelah kemenangan bangsa Romawi atas Persia, Rasulullah SAW mulai meluaskan dakwahnya, Rasul mengirimkan surat kepada para penguasa di luar wilayah Arab untuk mengenalkan agama Allah SWT. Mesir, Persia, Romawi dan daerah lainnya menjadi negara tujuan dakwah. Namun berbeda dengan sikap  penguasa Persia yang melakukan penolakan terhadap ajakan Rasulullah SAW. Kaisar Heraklius justru ingin menganalisis kebenaran surat tersebut. Nah apa isi suratnya ? 

"Bismillahirrohmanirrohim"
Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan - Nya
Kepada Heraklius, Raja Romawi
Salaamun 'alaa manit-taba'al huda, amma ba'du
(Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, Amma Ba'du)

Saya mengajak Anda dengan seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya anda akan selamat. Allah akan memberikan pahala kepadamu dua kali. Jika anda berpaling (tidak menerima) maka anda menanggung semua dosa orang Arisiyin (orang - orang yang kau pimpin).

     Maka saat itu, Heraklius sangat merasa kaget kemudian ia berada dalam kebingungan. Ketika Heraklius sedang berkunjung ke wilayah Syam mengetahui kedatangan kafilah dagang Arab yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Sang kaisar segera memanggil rombongan dagang untuk mendapatkan informasi tentang kenabian Muhammad. Abu Sufyan memiliki nasab terdekat dengan Nabi dan menjawab jujur tiap pertanyaan yang dilontarkan kaisar meski ia belum menjadi muslim. 

     Dari Abdullah bin Abbas:
    Setelah Kaisar Heraklius (Raja Romawi) membaca surat Rasulullah SAW yang ditujukan  kepadanya, ia berkata, "Hadapkan kepadaku salah seorang dari kaum orang yang mengaku Nabi ini. Aku ingin bertanya tentang dia". 

Abdullah bin Abbas melanjutkan:
Abu Sufyan bercerita kepadaku bahwa ia dan orang - orang Quraisy berada di Syam untuk berdagang. Saat itu Rasulullah SAW dan orang - orang Quraisy masih sedang mengikat perjanjian damai. Lalu datanglah utusan Kaisar. Kami pun diundang bertemu raja. Kami masuk menemui kaisar. Kaisar duduk di singgasananya dengan mengenakan mahkota. Dan disekelilingnya terdapat tokoh - tokoh Kerajaan Romawi. 

Kaisar Heraklius berkata kepada penerjemahnya, "Tanyakan pada mereka, siapa yang paling dekat kekerabatannya dengan laki - laki yang mengaku Nabi itu!"
Abu Sufyan berkata, "Akulah orang yang paling dekat hubungan nasab dengannya". 
Ia bertanya, "Seberapa dekat nasabmu dengannya?"
"Dia adalah anak pamanku", jawab Abu Sufyan. "Tidak ada pada rombongan ini seorang pun dari bani Abdi Manaf kecuali aku". Kisahnya.

Kaisar Berkata, "Mendekatlah". Lalu ia memerintahkan rombonganku berada di belakangku. Lalu ia berkata kepada penerjemahnya, "katakan kepada teman - temannya, aku akan menanyai dia tentang laki - laki yang mengaku Nabi itu. Apabila ia bohong, maka katakanlah ia berbohong".
Abu Sufyan berkata, "Demi Allah, kalau bukan karena di cap sebagai pendusta, pasti aku akan berdusta saat ia bertanya tentang nabi itu. Tapi aku malu kebohonganku ini akan diingat jadi ku katakan sebenarnya".

Kemudian kaisar berkata kepada penerjemahnya, "Bagaimana nasab laki - laki itu dikalangan kalian?". "Ia adalah seorang yang memiliki nasab terhormat", jawabku.

"Apakah ada diantara kalian orang yang mengatakan kenabian ini sebelum dia?" tanyanya lagi. "Tidak ada", jawabku.

"Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengaku Nabi?". "Tidak", jawabku.

"Apakah pengikutnya orang - orang terhormat di kaumnya ataukah orang - orang lemah?". "Pengikutnya adalah orang - orang lemah" jawabku. "Terus bertambah atau berkurang?" tanyanya lagi. "Terus bertambah", jawabku.

"Apakah ada yang murtad dari agamanya setelah mereka memeluknya?". "Tidak ada", jawabku.

"Apakah dia pernah berkhianat ?" tanyanya. "Tidak. Dan kami sekarang sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, kami tidak tahu apa yang akan dia perbuat". Abu Sufyan bergumam, "Demi Allah, aku tidak dapat menyelipkan kata lain dalam jawaban selain ucapan di atas".

"Apakah ia memerangi kalian dan kalian memeranginya?". "Iya", jawabku. "Bagaimana perang kalian?" tanyanya lebih lanjut. "Perang antara kami dengannya silih berganti. Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami mengalahkannya", jawab Abu Sufyan.

"Apa yang diperintahkannya kepada kalian?" Abu Sufyan menjawab, "Ia memerintahkan kami agar menyembah Allah saja dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Melarang menyembah tuhan - tuhan nenek moyang kami. Memerintahkan sholat, sedekah, menjaga kehormatan diri, memenuhi janji dan menunaikan amanah".

Setelah itu, Kaisar berkata kepada penerjemahnya:
Katakan padanya! Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya dan engkau menjawab ia memiliki nasab terhormat. Demikianlah para Nabi. Mereka adalah orang - orang yang memiliki nasab terhormat.

Aku juga bertanya kepadamu, apakah ada sebelum dia orang yang mengatakan demikian (mengaku nabi). Engkau jawab tidak ada. Kalau ada seseorang yang mengaku sebagai nabi sebelum dia. Maka menurutku dia hanya ikut-ikutan saja.

Aku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengaku nabi. Engkau jawab tidak pernah. Maka aku bisa tahu, tidak mungkin orang yang tidak berdusta atas nama manusia akan berdusta atas nama Allah

Aku bertanya kepadamu apakah nenek moyangnya pernah menjadi raja. Engkau jawab tidak ada. Jika seandainya ada nenek moyangnya yang pernah jadi raja. Maka ia adalah orang yang menginginkan kerajaan nenek moyangnya (kembali ke tangannya).

Aku bertanya kepadamu apakah pengikutnya orang - orang terhormat  atau orang - orang lemah. Engkau jawab pengikutnya adalah orang - orang lemah. Demikian itulah para Nabi.

Aku bertanya kepadamu apakah pengikutnya itu terus bertambah atau berkurang. Engkau jawab terus bertambah. Demikianlah keimanan sehingga ia bisa sempurna.

Aku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad salah seorang pengikutnya setelah memeluk agamanya. Engkau jawab tidak ada. Memang demikianlah keimanan keetika cahanya telah menyentuh hati, Tidak seorang pun membencinya.

Aku bertanya kepadamu apakah ia pernah berkhianat. Engkau jawab tidak pernah. Memang para Nabi tidak akan berkhianat.

Aku bertanya kepadamu tentang ia memerangi kalian dan kalian memeranginya. Engkau jawab demikianlah keadaannya. Peperangan antara kalian dengannya kadang dia yang menang dan kadang kalian yang menang. Begitulah para nabi. Mereka senantiasa diuji. Namun pada akhirnya merekalah yang akan menang.

Aku bertanya apa yang ia serukan. Engkau katakan ia memerintahkan agar menyembah Allah saja dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Melarang menyembah tuhan-tuhan nenek moyang kalian. Memerintahkan sholat, sedekah, menjaga kehormatan diri, memenuhi janji dan menunaikan amanah. Inilah sifat seorang Nabi. Aku telah mengetahui bahwa ia akan diutus. Hanya saja aku tidak menyangka dari bangsa kalian.

Jika apa yang kalian katakan benar, maka ia akan menguasai tempat kedua kakiku berpijak ini. Dan seandainya aku tahu bahwa aku akan setia kepadanya, niscaya aku pasti akan senang bertemu dengannya. Kalau aku berada di sisinya, pasti akan aku cuci kedua kakinya.

(Al Anwar fi Syama-il an-Nabi al-Muhktar, Bab Alamat Nubuwatihi Shollallahu Alaihi wasallam, Hadits No:36).

     Tapi seolah tidak ada jalan lain bagi Heraklius sebagai bangsa yang besar dan baru saja memperoleh kemenangan tak mungkin bagi kaisar untuk menyerahkan wilayahnya kepada muslimin. Selain khawatir wibawanya akan jatuh hal tersebut tentu akan mengundang kemarahan rakyatnya. Maka kaisar Heraklius yang sudah paham akan kenabian Muhammad SAW memilih untuk menolak Hidayah Islam daripada meninggakan kekuasaannya. Beliau menolak dengan sikap santun dan penuh kelembutan serta membalas kebaikan Rasulullah SAW dengan mengirimkan hadiah yang begitu banyak bagi kaum muslimin di Madinah. Heraklius mengatakan kepada Dihya bin Khalifah al- Kalbi ra (utusan Rasulullah SAW kepada Heraklius), "Kalau bukan karena kerajaanku maka aku akan datang ke Madinah untuk aku cuci kakinya (Muhammad)".

     Rasul SAW membalas kebaikan beliau dengan mendoakan Heraklius "Semoga Allah mengabadikan kerajaannya". Dan terbukti, doa ini berbeda dengan doa Nabi kepada raja Persia, Kisra yang ketika itu merobek  - robek surat Nabi, maka Nabi mendoakan "Semoga Allah merobek - robek kerajaannya". Maka begitu kaum muslimin menaklukkan Persia, maka tak satupun kota tersisa. Tetapi Romawi semua wilayahnya bisa diambil kaum muslimin tetapi masih tersisa satu yaitu Konstantinopel.

Surat yang diduga dikirim oleh Nabi Muhammad SAW kepada Heraklius. Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Surat-surat_Muhammad_untuk_kepala_negara



REFERENSI : 
Siauw, Felix Y. 2013. Muhammad Al Fatih 1453. Jakarta Barat: Al Fatih Press
    
     

     

1 komentar: